Mahasiswa



| | Read More »

Syafii dan kawan2 mesir

Beginilah nasib anak kampus kalau lagi dosen belum datang mengajar, biasanya kami akan mencari ruangan kosong, kemudian menutup pintu dan jendela lokal, hingga pada akhirnya suara menjadi menggema dan seolah-olah seperti ada microfon, kami biasanya menceri lokal dilantai 5 gedung kampus dekat membeli diktat, tapi sebenarnya ini kami lakukan sembari menunggu toko buku diktat buka, selamat mendengarkan, semoga kawan itu menjadi qori' terkenal didunia. Amiiin.









| | Read More »

Manusia seperti hewan diarab

Video dibawah ini adalah salah satu kejadian yang menunjukkan bahwa revolusi diarab telah kembali kemasa jahiliyah, manusia disembelih seperti hewan qurban, nyawa tidak ada lagi harganya. ini terjadi di Tunisia yang diupload oleh salah seorang temanku dimesir, dan dia adalah orang mesir. Harap warga asing berhati-hati, sebab bisa jadi mereka juga akan menyembelihmu. Ya Allah, lindungi aku dalam menuntut ilmu dinegeri arab ini. A..min
Youtube tidak izinkan aku uplod, setelah aku upload didelet. Tapi bisa lihat disini
Kalau tidak bisa lihat tanpa dari FB, silahkan loding FB anda terlebih dahulu.

| | Read More »

Qaddafi 4

Mengungkap rahasia kelam sosok Qaddafi: Firaun, Toghut, dan Musailamah al-Kadzab dari Libya (4)

(Arrahmah.com) – Kegarangan Qaddafi terhadap para taghut negara-negara Arab yang pro salibis Barat sudah dikenal luas oleh masyarakat internasional lewat pidatonya yang meledak-ledak dalam beberapa kesempatan konferensi Liga Arab. Pekik seruannya untuk membela perjuangan bangsa muslim Palestina melawan penjajah zionis Yahudi sudah sering diliput oleh media massa internasional.

Qaddafi dikenal sangat vokal menyuarakan perlawanan terhadap imperialis zionis Yahudi dan salibis Barat. Ia dianggap sebagai icon anti imperialisme oleh banyak kalangan. Mereka menahbiskannya sebagai simbol perjuangan kemerdekaan dan solidaritas dunia Islam. Di luar itu semua, kaum muslimin di negara yang jauh dari Libya tidak banyak mengetahui bagaimana Qaddafi sejatinya bersekongkol dengan kaum kafir dalam memerangi Islam dan kaum muslimin.

8. Bahu-membahu dengan orang-orang kafir dalam memerangi Islam dan kaum muslimin

Libya selama 42 tahun masa kekuasaan Qaddafi menjadi sarang yang aman bagi banyak gerakan destruktif di muka bumi. Qaddafi telah memberikan berbagai bentuk bantuan dan dukungan bagi gerakan-gerakan tersebut.

Abdus Salam Jalud, salah seorang perwira yang bersama Qaddafi melakukan kudeta terhadap raja Idris, menyatakan bahwa setiap tahun republik Libya pada masa kekuasaan Qaddafi mengelontorkan 22 % pemasukan negara untuk mendukung gerakan-gerakan kemerdekaan dan perlawanan terhadap imperialism dan zionisme.

Mendukung gerakan kemerdekaan dan perlawanan terhadap imperialisme dan zionisme, bukankah itu hal yang bagus? Berbagai sumber menyebutkan bahwa Qaddafi memberikan dukungan pelatihan militer, persenjataan, dan pendanaan terhadap mujahidin Moro (MILF) dalam usahanya memerdekakan diri dari negara Katolik Filiphina. Gerakan Aceh Merdeka (GAM) diberitakan juga mendapat dukungan serupa dari Qaddafi.

Jika berita itu benar, bisa dipahami bahwa Qaddafi membantu perjuangan kelompok muslim (MILF mengangkat ideologi Islam, adapun GAM mengusung ideologi nasionalis, bukan Islam) yang tengah berjuang melawan penindasan. Namun apakah dukungan Qaddafi hanya tertuju kepada gerakan-gerakan pembebasan yang mayoritas pelakunya muslim, atau bahkan mengusung ideologi Islam (menegakkan syariat Islam di muka bumi)? Ataukah Qaddafi juga mendukung semua gerakan pembebasan, sekalipun gerakan Yahudi dan Nasrani melawan kaum muslimin? Inilah inti persoalannya, dan dalam hal ini penduduk Libya lebih memahami fakta yang sebenarnya dibanding selain mereka.

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Al-Libi dalam bukunya, Qaddafi Musailamah al-‘Ashri, mengungkapkan fakta-fakta dalam masalah ini yang jarang diangkat oleh media massa yang dikuasai oleh kelompok zionis-salibis-paganis internasional. Di antara fakta yang beliau sebutkan adalah sebagai berikut:

Qaddafi memberikan dukungan persenjataan, latihan militer, dan pendanaan terhadap gerakan Kristen Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan (SPLM) pimpinan John Garang, yang berjuang untuk memerdekakan Sudan Selatan dari Sudan. Dukungan Qaddafi membuat SPLM menjadi sebuah kekuatan yang mampu menggoyang negara Sudan. Sebagai sebuah gerakan Kristen, SPLM juga mendapat dukungan AS, zionis Israel, dan negara-negara salibis Barat.

Usaha gerakan Kristen SPLM (Sudan Selatan) untuk memisahkan diri dari Sudan (Sudan Utara) telah berlangsung selama lebih dari 50 tahun. Jutaan orang tewas akibat perang di Sudan dan wilayah itu porak-poranda. Mayoritas korban yang tewas di Sudan Utara adalah warga muslim, adapun mayoritas korban di Sudan Selatan adalah warga Kristen dan musyrik (penganut animisme). Konflik baru berakhir setelah penandatanganan Perjanjian Perdamaian Komprehensif (CPA) tahun 2005.Kedua pihak sepakat berdamai dengan tekanan dari negara asing, terutama Amerika Serikat, Inggris, dan Norwegia.

Referendum diselenggarakan pada Januari 2011, dan 99 persen warga Sudan Selatan memilih memisahkan diri, berujung pada proklamasi kemerdekaan Sudan Selatan pada hari Sabtu (9/7/2011). Negara Sudan Selatan dengan ibukotanya, Juba, merepresentasikan negara berpenduduk mayoritas Kristen dan animisme yang memisahkan diri dari negara Sudan (ibukotanya Khartoum) yang mayoritas penduduknya muslim. Tidak heran apabila penjajah zionis Israel menjalin hubungan politik, ekonomi, dan militer dengan negara Sudan Selatan. Dan ingat, ¾ cadangan minyak Sudan berada di wilayah Sudan Selatan.

Qaddafi memberikan dukungan pendanaan, persenjataan, dan pelatihan militer kepada organisasi IRA (Irish Republican Army, Tentara Republik Irlandia). IRA adalah gerakan minoritas Katolik yang ingin memerdekakan diri dari Inggris yang mayoritas beragama Kristen Anglikan (Protestan). Periode 1969 hingga 1998 menjadi periode terror berdarah dan perang gerilya IRA melawan Inggris.

Qaddafi memberikan dukungan pendanaan, persenjataan, dan pelatihan militer kepada Kelompok Baader-Meinhof (Faksi Pasukan Merah, dalam bahasa Jerman aslinya: Rote Armee Fraktion atau disingkat RAF), sebuah organisasi teroris sayap kiri Jerman Barat yang gencar melakukan teror di Jerman pada periode 1970an hingga 1998.

Qaddafi memberikan dukungan pendanaan, persenjataan, dan pelatihan militer kepada Brigade Merah (Brigate Rosse dalam bahasa Italia, sering disingkat BR), sebuah organisasi teroris Italia beraliran Marxisme-Leninisme yang bertujuan mendirikan negara revolusioner melalui pertempuran dan memisahkan Italia dari NATO.

Qaddafi memberikan dukungan kepada pemerintahan Kristen Ortodoks Serbia dalam melakukan pembantaian terhadap penduduk muslim Bosnia-Herzigovina, dengan jalan memasok seluruh kebutuhan minyak bumi Serbia. Minyak bumi Qaddafi itulah yang ‘menggerakkan’ mesin perang Kristen Serbia untuk menimpakan kebiadaban luar biasa terhadap kaum muslimin Bosnia pada periode konflik Balkan tahun 1992-1995.

Dukungan Qaddafi terhadap gerakan Kristen SPLM dan pemerintahan Kristen Ortodoks Serbia dalam memerangi kaum muslimin di Sudan dan Bosnia Herzigovina mementahkan pencitraan Qaddafi sebagai PAHLAWAN ISLAM, pembela kaum muslimin, anti imperialis Barat, dan gelar-gelar palsu lainnya. Dukungan Qaddafi terhadap Brigade Merah, Baader-Meinhof, dan IRA juga membuktikan Qaddafi bahu-membahu dengan orang-orang kafir (kelompok Katholik, Komunis, Marxis-Leninis) dalam melakukan kerusakan di muka bumi. Seorang muslim tidak akan memberikan loyalitas (kecintaan, pembelaan, dan dukungan) kepada orang-orang kafir.

Ketika pada tahun 1992 bangsa muslim Bosnia-Herzigovina memerdekakan dirinya dari federasi negara komunis Yugoslavia, mereka harus berhadapan dengan mesin perang negara bekas Yugoslavia lainnya; bangsa Kristen Ortodoks Serbia. Selama 28 bulan, 2/3 wilayah muslim Bosnia-Herzigovina jatuh ke tangan Kristen dan ratusan ribu kaum muslimin Bosnia dibantai oleh Serbia. Bagaimana sikap Qaddafi pada masa ‘muslim cleansing’ tersebut?

Qaddafi justru memberikan dukungannya kepada Kristen Serbia. Dalam pandangan Qaddafi, upaya bangsa muslim Bosnia-Herzigovina untuk memerdekaan diri dari penindasan rezim komunis Yugoslavia dan dominasi Kristen Ortodoks Serbia pada masa bersatunya Yugoslavia bukanlah jihad dan gerakan kemerdekaan. Menurut Qaddafi, justru Kristen Ortodoks Serbia dan Kroasia yang berada di pihak yang benar, sehingga Qaddafi memberikan dukungannya kepada mereka.

Koran Jamahiriyah, Libya, edisi 8 September 1992 M memuat pernyataan Qaddafi tentang perang Serbia-Bosnia tersebut: “Sesungguhnya mayoritas penduduk di Bosnia dan Herzigovina adalah orang-orang Serbia, Kroasia, Katholik, dan Ortodoks. Kaum muslimin hanya minoritas di Bosnia dan Herzigovina…Apa yang saat ini terjadi di Bosnia dan Herzigovina hanyalah kesia-siaan dan permainan. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan Islam…Tidak ada solusi untuk memecahkan problem ini. Tidak dari PBB, tidak dengan mengadakan konspirasi-konspirasi dan pembalasan terhadap Yugoslavia, tidak dengan bantuan-bantuan, tidak pula dengan menangisi korban di pihak kaum muslimin…Sesungguhnya solusi atas krisis di Bosnia, Herzigovina, Serbia, dan generasi hitam adalah dengan membentuk Yugoslavia baru.”

Qaddafi mendukung gerakan Kristen SPLM dan negara Kristen Ortodoks Serbia dalam aksi mereka memerangi kaum muslimin. Dukungan harta, senjata, pelatihan militer, dan politik terhadap orang-orang kafir dalam upaya mereka memerangi kaum muslimin merupakan sebuah sikap loyalitas kepada orang-orang kafir. Al-Qur’an, as-sunnah, dan ijma’ ulama telah menegaskan kafir murtadnya seorang ‘muslim’ yang memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir atau bekerjasama dengan orang-orang kafir dalam memerangi kaum muslimin.

Allah SWT berfirman (yang artinya),

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil sebagai teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran (3): 118)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali-wali (pemimpin-pemimpin, kawan, orang kepercayaan) kalian; karena sebagian mereka adalah wali-wali bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah (5): 51)

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada wahyu yang diturunkan kepada Nabi, niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang kafir itu menjadi wali-wali (pemimpin-pemimpin, penolong-penolong, kawan-kawan). Namun kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah (5): 80-81)

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah (58): 22)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Mumtahanah (60): 1)

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kalian menjadikan sebagai kawan kalian orang-orang yang memerangi kalian karena agama dan mengusir kalian dari negeri kalian dan membantu (orang-orang kafir yang lain) untuk mengusir kalian. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah (60): 9)

Ijma’ atas kafir murtadnya seorang muslim yang bekerja sama dengan orang-orang kafir dalam memerangi kaum muslimin telah ditegaskan oleh para ulama Islam sejak dahulu hingga sekarang. Imam Ibnu Hazm al-Andalusi (384-456 H) yang hidup di abad keempat-kelima hijriyah sampai para ulama kontemporer abad kelima belas hijriyah telah menyebutkan ijma’ tersebut dalam tulisan mereka.

Imam Ibnu Hazm al-Andalusi menulis, “Maka benar bahwa makna firman Allah ‘Barangsiapa di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka’ (QS. Al-Maidah (5): 51) adalah sesuai zhahirnya, bahwa ia telah kafir dan termasuk dalam golongan orang kafir. Dalam hal ini tidak ada perselisihan pendapat lagi di antara kaum muslimin.” (Al-Muhalla, 12/33)

Syaikh Abdullah bin Humaid rahimahullah berkata, “Adapun at-tawalli (memberikan loyalitas) adalah memuliakan orang-orang kafir, memuji-muji mereka, memberikan pertolongan dan bantuan kepada mereka dalam melawan kaum muslimin, bergaul akrab dengan orang-orang kafir dan tidak berlepas diri secara lahir dari kekafiran mereka, maka hal ini merupakan perbuatan riddah (keluar dari Islam), pelakunya wajib disikapi dengan hukum-hukum syariat atas diri kaum yang murtad, sebagaimana telah ditunjukkan oleh Al-Qur’an, as-sunnah, dan ijma’ para ulama panutan.” (Ad-Durar as-Sanniyah fil Ajwibah an-Najdiyyah, 15/479)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz rahimahullah berkata, “Para ulama Islam telah bersepakat bahwa barangsiapa bekerja sama dan membantu orang-orang kafir dalam memerangi kaum muslimin, dengan bentuk bantuan apapun, niscaya ia telah kafir seperti halnya orang-orang kafir yang ia bantu tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh firman Allah QS. Al-Maidah (5): 51.” (Majmu’ Fatawa wa al-Maqalat al-Mutanawwi’ah, 1/274)

Qaddafi dalam banyak forum nasional, regional, dan internasional memang menyerukan dengan lantang untuk melawan penjajahan Barat, memerangi penjajah zionis Yahudi, dan menjatuhkan para penguasa Arab loyalis-Barat. Namun fakta membuktikan, perbuatan Qaddafi tidak serius dan sama sekali tidak selaras dengan khotbahnya yang meledak-ledak tersebut. Fakta membuktikan khotbah-khotbah dan slogan-slogan pembelaan terhadap Islam dan kaum muslimin tersebut hanyalah lipstik dan kamuflase belaka untuk menutup-nutupi kekafiran, kemurtadan, kezindikan, kebencian, dan peperangannya terhadap Islam dan kaum muslimin.

Bagaimana Qaddafi berteriak-teriak bak pahlawan Islam yang akan membebaskan Palestina dan mengusir penjajah zionis-salibis dari negeri-negeri kaum muslimin, sedangkan Qaddafi sendiri meniadakan ajaran jihad fi sabilillah melawan kaum zionis Yahudi dan salibis Nasrani? Menurut Qaddafi, kaum Yahudi dan kaum Nasrani adalah kaum beriman, bukan kaum kafir. Maka menurut Qaddafi tidak ada jihad kaum muslimin melawan kaum Yahudi dan kaum Nasrani!

Qaddafi mengatakan, “Sumber yang benar dalam ajaran Islam adalah Al-Qur’an. Saya tegaskan bahwa hubungan kaum muslimin saat ini tidak selaras dengan Al-Qur’an. Ada banyak sekali kaum muslimin yang meyakini bahwa perang kaum muslimin melawan kaum Masehi (Nasrani, edt), atau perang kaum muslimin melawan kaum Yahudi adalah jihad yang suci. Keyakinan ini tidak benar, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Hal itu karena jihad adalah perang antara kaum beriman melawan kaum kafir. Adapun antara seorang mukmin dengan mukmin lainnya, maka sama sekali tidak ada yang namanya jihad…Selama sumber yang benar adalah Al-Qur’an, maka hakekat pertama yang bisa kami tegaskan di sini adalah kenyataan bahwa jihad melawan Ahlul Kitab adalah pemahaman yang salah.” (Khuthab wa Ahadits al-Qaid ad-Diniyyah, hlm. 100-101)

Allahu akbar…Allahu akbar…Allahu akbar…

Meskipun berjuta-juta kali Qaddafi berkhotbah dengan berapi-api mengajak kaum muslimin untuk mengusir penjajah zionis Yahudi dari Palestina, mengajak kaum muslimin untuk melawan AS dan Barat, bahkan mengajak kaum muslimin melengserkan para penguasa rezim Arab yang pro-Barat…semua kedoknya tetap terbongkar juga, dari ucapan dan perbuatan Qaddafi sendiri. Khotbah Qaddafi ini telah membongkar dua bentuk kekafiran Qaddafi yang lain, yaitu:

Pertama, Qaddafi mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi SAW yang menegaskan bahwa kaum Yahudi dan kaum Nasrani yang tidak masuk Islam, tidak mengimani Rasulullah SAW dan tidak mengimani Al-Quran adalah kaum kafir dan musyrik yang kekal di neraka. (Lihat misalnya QS. Ali Imran (3): 19 dan 85, Al-Maidah (5): 17, 72 dan 73, At-Taubah (9): 29-31 dan Al-Bayyinah (98): 1 dan 6). Menganggap kaum Yahudi dan Nasrani adalah kaum mukmin merupakan ajaran pluralisme, theosofi, dan Freemasonry anak kandung zionisme Yahudi. Semua paham ini merupakan ajaran kekafiran menurut kesepakatan ulama Islam. Dari sini latar belakang ke-Yahudi-an Qaddafi tidak bisa ditutup-tutupi lagi.

Kedua, Qaddafi mendustakan ayat Al-Qur’an yang memerintahkan jihad melawan kaum Yahudi dan Nasrani. Qaddafi menyatakan jihad melawan kaum Yahudi dan Nasrani adalah pemahaman yang salah, karena menurutnya jihad hanyalah melawan orang-orang kafir, sementara menurutnya kaum Yahudi dan Nasrani adalah kaum mukmin. Qaddafi menegaskan Al-Qur’an tidak mensyariatkan jihad melawan kaum Yahudi dan Nasrani, namun klaim Qaddafi ini didustakan oleh Al-Qur’an sendiri. Allah SWT berfirman,

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah Dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah (9): 29)

Al-Qur’an mengisahkan jihad Rasulullah SAW dan generasi sahabat melawan Yahudi Bani Nadhir (lihat QS. Al-Hasyr (59): 2-7), Yahudi Bani Quraizhah (lihat QS. Al-Ahzab (33): 26-27), dan Nasrani Romawi Timur dalam perang Tabuk (lihat QS. At-Taubah (9): 42-49, 81-99, dan 117-121). Selama sepuluh tahun masa kehidupannya di Madinah, Rasulullah SAW dan generasi sahabat berjihad melawan empat kelompok kaum Yahudi; Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Yahudi Khaibar.

Rasulullah SAW pernah sekali mengirim pasukan jihad melawan kaum Nasrani Romawi Timur (perang Mu’tah) dan pernah sekali memimpin langsung pasukan Islam melawan mereka (perang Tabuk). Di akhir hayatnya, beliau mempersiapkan sebuah pasukan di bawah pimpinan Usamah bin Zaid bin Haritsah untuk memerangi kaum Nasrani Romawi Timur. Jelaslah, Al-Qur’an dan as-sunnah menegaskan kebohongan klaim dan kamuflase Qaddafi. Mungkinkah anak Yahudi yang diasuh oleh tuan guru Yahudi dan Nasrani akan memerangi penjajah Yahudi dan Nasrani???

Qaddafi juga mengatakan, “Mustahil terjadi perang suci antara kaum muslimin dengan kaum Masehi (Nasrani, edt) atau antara kaum muslimin dengan kaum Yahudi, karena kita semua menginduk kepada keturunan Ibrahim, bapak kita yang pertama. Adapun dalam menghadapi semua problematika dengan kaum paganis, maka kita bersatu.” (As-Sijil al-Qaumi, 9/751)

Klaim Qaddafi ini terlalu nampak kepalsuannya bagi setiap muslim, Yahudi, dan Nasrani yang memiliki akal sehat dan sedikit pengetahuan sejarah. Perang Salib selama dua abad (1095-1291 M) merupakan perang suci kaum muslimin melawan kaum Nasrani Eropa dalam memperebutkan masjidil Aqsha, kota suci Al-Quds, dan negeri-negeri Islam di Syam. Jihad kaum muslimin Palestina selama seratusan tahun ini (1914-2011 M), bukankah melawan penjajah zionis Yahudi yang dibackingi kekuatan salibis-paganis-komunis internasional? Jihad kaum muslimin di Afghan, Irak, Bosnia, Mindanao, dan bahkan Ambon, bukankah perlawanan terhadap kaum (penjajah) Nasrani AS, NATO, Serbia, Filiphina, dan RMS?

Adapun terhadap sebagian umat Islam yang masih meyakini Qaddafi adalah pahlawan Islam yang berjuang demi membebaskan Palestina dari penjajahan zionis Israel, cukuplah bagi mereka menyimak pernyataan Qaddafi pada khotbahnya pada tanggal 1 April 1978, “Peperangan melawan Israel tidaklah kita anggap sebagai perang agama antara kaum Yahudi melawan kaum muslimin. Ia adalah perang antara suatu kaum yang melakukan pelanggaran terhadap sebuah kaum yang lain, tanpa memandang agama mereka.”Bagaimanapun seorang anak Yahudi yang mendapat pendidikan kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan melawan guru asuhnya sendiri.



Sikap Qaddafi terhadap para ulama, aktivis Islam, dan gerakan Islam

Qaddafi menjalin hubungan mesra dan memberikan dukungan penuh kepada kelompok-kelompok komunis-Marxis-Leninis, Kristen Ortodoks, dan Katholik. Bagaimana hubungan dan sikap Qaddafi terhadap para ulama, aktivis Islam, dan gerakan Islam di Libya sendiri?

Qaddafi mengerahkan konsentrasi dan usaha yang penuh untuk memberangus gerakan Islam yang menuntut penegakan syariat Islam di bumi Libya. Periode 1980an sampai 2011 merupakan masa puncak kemarahan, kebencian, dan kekejaman Qaddafi terhadap ulama, aktivis Islam, dan gerakan Islam di Libya. Pada periode tersebut, jutaan kaum muslimin Libya semakin memahami kekafiran dan kemurtadan Qaddafi. Para pemuda, pelajar, dan mahasiswa dengan berani dan terang-terangan mengkafirkan Qaddafi. Para ulama dan gerakan Islam menuntut penegakan syariat Islam di Libya. Maka kemarahan dan kegilaan Qaddafi memuncak. Ia mempertontonkan kemarahan dan kegilaannya di stasiun TV, radio, dan Koran Libya.

Qaddafi mengklaim dirinya sebagai imam-nya seluruh imam. Ia tidak terima dikafirkan oleh rakyat muslim Libya. Saat menyampaikan pidato yang disiarkan secara langsung oleh stasiun TV Libya dalam Konferensi Umum Rakyat di ibukota Tripoli tanggal 7 Oktober 1979, dengan badan bergetar karena kemarahan dan kegilaan, Qaddafi berteriak-teriak: “Lalu mereka mengkafirkan saya. Mereka mengatakan ‘Demi Allah, Moammar Qaddafi orang kafir’. Saya, wahai saudaraku, mengimami shalat para imam masjid. Kami (mengimami) shalat jutaan orang di Afrika. Kami (mengimami) shalat ribuan orang di Libya. Orang-orang yang shalat di belakangku adalah para kepala Negara…Saya tidak rela ada seorang pun yang mengkafirkan saya, karena saya adalah imam manusia. Saya telah menjadi imam bagi para imam yang mengimami para imam. Dan saya memimpin mereka shalat!!!”

Kemarahan dan kegilaan Qaddafi terhadap jutaan kaum muslimin Libya yang mengkafirkannya dilampiaskannya dengan program kerja terstruktur, yaitu memberangus gerakan Islam. Untuk itu, Qaddafi membuat undang-undang Az-Zandaqah, semacam undang-undang subversive atau undang-undang teroris di negara-negara lainnya. Undang-undang Az-Zandaqah menjadi senjata legal rezim taghut Qaddafi untuk menangkap, menginterogasi, memenjarakan, menyiksa, menggantung, dan mengeksekusi secara sadis para ulama, aktivis Islam, dan gerakan Islam yang menuntut penegakan syariat Islam di bumi Libya.

Undang-undang Az-Zandaqah menjadi senjata rezim Qaddafi untuk menghalalkan nyawa, harta, dan kehormatan kaum muslimin Libya, hanya karena mereka mengkafirkan Qaddafi dan menuntut penegakan syariat Islam. Padahal Al-Qur’an, as-sunnah, dan ijma’ ulama telah menegaskan nyawa, harta, dan kehormatan seorang muslim terlindungi dan haram diganggu bila tidak melanggar ketentuan syariat (berzina setelah menikah, membunuh, dan murtad). Al-Qur’an, as-sunnah, dan ijma’ juga telah menegaskan kafir murtadnya seorang muslim yang menghalalkan hal yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, atau mengharamkan hal yang telah dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Qaddafi menerjang semua ketentuan Al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’ tersebut. Dengan bangga, Qaddafi menggantung mati para ulama dan aktivis Islam di siang hari bulan Ramadhan, bahkan pada waktu berbuka puasa! Dengan congkak, ia mengklaim hukuman mati tersebut sebagai ibadah. Ia tidak peduli dengan kemuliaan bulan suci Ramadhan. Ia tidak peduli dengan keharaman nyawa, harta, dan kehormatan kaum muslimin.

Dalam acara peringatan revolusi Libya pada tanggal 1 September 1984, Qaddafi menyampaikan pidatonya, “Kalian telah melihat pelaksanaan hukuman gantung seperti As-salamu ‘alaikum pada bulan Ramadhan. Aku tidak peduli dengan Ramadhan. Tidak ada yang haram. Tidak masalah. Tidak ada yang haram dalam bulan Ramadhan… Pelaksanaan hukuman mati ini adalah ibadah. Demi Allah Yang Maha Agung, persoalan dengan orang-orang in tidak bisa diselesaikan kecuali dengan menghukum mati mereka…Maka mereka (tentara rezim Qaddafi, edt) menggantung mereka (ulama dan aktivis Islam, edt) dalam konferensi-konferensi tanpa proses pengadilan. Kamu adalah anjing sesat…Taruhlah orang ini di tiang gantungan!”

Dalam pidato umum yang disampaikan di kota Benghazi pada tanggal 8 Maret 1979, Qaddafi memprovokasi tentara dan pengikut loyalisnya yang bernaung di bawah Al-Lijan ats-Tsauriyah (Barisan Pengawal Revolusi) untuk memburu, membantai, dan menyerang tempat orang-orang (ulama, aktivis, dan gerakan Islam, edt) yang menentang pemerintahannya, sekalipun mereka berlindung di dalam masjid! Provokasi Qaddafi tersebut menjadi awal dari undang-undang ‘penghilangan nyawa di dalam negeri dan luar negeri’ yang dilegalkan oleh Konferensi Ketiga Al-Lijan ats-Tsauriyah pada bulan Februari 1980.

Dalam pidato umum di Benghazi pada tanggal 8 Maret 1979 tersebut, Qaddafi mengatakan, “Siapa pun yang menentang revolusi ini, maka persoalannya telah jelas. Kami akan menyerbu dan menghancurkannya di tempat kediamannya, sekalipun hal itu adalah masjid! Besok akan berlanjut di luar negeri, kami akan beralih kepadanya dan menyerangnya di luar negeri. Jika kalian telah memvonis seseorang dengan hukuman mati, maka vonis itu berlaku di tempat manapun di dunia ini karena ia berhak untuk dihukum mati… karena ia melawan revolusi ini. Kalian harus bekerja untuk melaksanakan vonis ini di tempat manapun di dunia ini!”

Dengan dasar provokasi Qaddafi yang kemudian dilegalkan lewat Undang-undang nasional inilah, tentara dan pengikut loyalis Qaddafi di bawah naungan Al-Lijan ats-Tsauriyah menyerbu masjid-masjid, madrasah-madrasah, dan pondok pesantren. Mereka memburu, menangkap, menyiksa, memenjarakan, dan menggantung para ulama, santri, dan aktivis Islam Libya di dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan selanjutnya perburuan dan pembunuhan terhadap para oposan Qaddafi juga menargetkan orang-orang Libya berpaham sekuler, di dalam negeri maupun luar negeri. Semua oposan Libya, muslim maupun sekuler, disikat habis oleh Qaddafi.

Salah satu contoh paling terkenal atas hal ini adalah penyerbuan Al-Lijan ats-Tsauriyah terhadap masjid Al-Qashr pada hari Jum’at sore, 21 November 1980. Mereka merusak masjid, menginjak-injak kehormatannya dengan sepatu najis, menangkap khatib masjid syaikh Muhammad al-Busyti rahimahullah dan para santrinya.

Dalam usahanya mewajibkan Al-Kitab al-Akhdhar sebagai pedoman hidup rakyat Libya, Qaddafi menerbitkan koran mingguan az-Zahf al-Akhdhar. Dalam koran az-Zahf al-Akhdhar edisi 28 April 1981, Qaddafi menurunkan sebuah artikel berjudul ‘Hendaknya kuburan dibongkar sebagai hukuman bagi setiap orang yang congkak’. Artikel ini menabuh genderang dimulainya program ‘pembersihan oposisi di luar negeri’ dan ancaman untuk anggota keluarganya di dalam negeri.

Dalam artikel tersebut, Qaddafi menulis, “Sesungguhnya pembersihan fisik atas diri musuh-musuh revolusi di luar negeri telah dimulai. Ia tidak akan berhenti sampai dihancurkan seluruh tempat dan lobang persembunyian yang dipergunakan untuk menyerang penduduk Libya dan mengancam kebebebasan mereka…Kematian akan memburu setiap musuh revolusi di manapun mereka berada,dalam setiap waktu…Sesungguhnya kerabat, keluarga, dan anak-anak para musuh revolusi tidak akan mengecap belas kasihan dan kasih sayang yang dahulu mereka rasakan. Mereka akan mendapatkan balasan yang keras, dan musuh-musuh revolusi yang melarikan diri (ke luar negeri) adalah pihak yang bertanggung jawab atas hal itu.”

Sungguh ajaib…bangsa yang mana dan kebebasan seperti apa yang digembar-gemborkan oleh taghut tak berperi kemanusiaan ini??? Inilah wajah sesungguhnya revolusi sekuleris-sosialis Qaddafi yang memerangi syariat Islam dan membantai kaum muslimin, tanpa menyisakan sedikit pun belas kasihan kepada anak-anak, kaum wanita, dan orang-orang jompo kaum muslimin! Revolusi sekuleris-sosialis yang seratus persen merealisasikan tujuan zionis, salibis, paganis, dan komunis internasional. Revolusi sekuleris-sosialis yang menargetkan penghancuran Islam dan pembantaian kaum muslimin.

Tak diragukan lagi, mayoritas oposisi Qaddafi adalah ulama, santri, aktivis Islam, dan jutaan penduduk muslim Libya yang menginginka hidup di bawah naungan Al-Qur’an dan as-sunnah. Tak diragukan lagi, merekalah batu sandungan terbesar taghut Qaddafi dalam menanamkan kekafiran dan kemurtadannya di bumi Libya. Tidak mengherankan jika Qaddafi mengerahkan seluruh potensinya untuk memerangi ulama, sntri, aktivis Islam, dan gerakan kebangkitan Islam di Libya. Qaddafi menjuluki mereka adalah kaum ZINDIQ, dan untuk memerangi mereka diperlulan penetapan undang-undang anti zindiq!

Dalam Konferensi Umum Bangsa di ibukota Tripoli tanggal 7 Oktober 1989, Qaddafi menyampaikan pidatonya di hadapan tentara dan pengikut loyalisnya yang bernaung di bawah al-Lijan ats-Tsauriyah, “Saya katakan kepada kalian, permasalahan ini harus diajukan kepada Konferensi Bangsa dan ditetapkan undang-undang anti kaum zindiq. Undang-undang inilah yang akan menganggap gerakan-gerakan (Islam yang menuntut penegakan syariat Islam, edt) ini sebagai gerakan zindiq, gerakan yang menghancurkan Islam, gerakan yang memusuhi bangsa Arab, gerakan yang sangat berbahaya bagi masyarakat Arab, masyarakat Islam, dan agama Islam. Siapa yang memeluk (mengikuti, edt) gerakan ini wajib ditumpahkan darahnya (dibunuh, edt).

Setiap keluarga di Libya harus memahami hal ini, jika mereka (pasukan al-Lijan ats-Tsauriyah, edt) mengatakan kepadamu bahwa anakmu ikut gerakan zindiq ini dan ia telah dihukum karenanya. Allah-lah Sang Pemenang. Itu seperti halnya jika mereka berkata kepadamu; “Anakmu menderita sakit kanker stadium tiga atau empat.” Mereka berkata kepadamu; “Kami mendapati salah seorang anggota keluargamu mengikuti gerakan ini.” Saya kira mereka akan mengatakan kepadamu, “Ia menderita AIDS.”… Sudah, selesai perkara. Tidak ada seorang perantara pun yang bisa memberinya pertolongan. Orang zindiq harus dibasmi…Mulai sekarang dan seterusnya, undang-undang telah ditetapkan oleh Konferensi Bangsa bahwa orang zindiq harus langsung dihukum mati.”

Agar semua rencana jahatnya berjalan mulus dan para ulama serta tokoh Islam internasional bisa dikelabui, pada tanggal 19 Juli 1990 Qaddafi mengadakan acara dialog dengan para ulama, tokoh, dan tamu undangan yang diberi nama ‘Srigala, singa, dan tangan kanan Sang Penakluk’. Dalam kesempatan tersebut, Qaddafi mengatakan, “Oleh karena itu, siapa pun yang kalian temukan mengatakan dakwah, atau jihad, atau takfir, atau Ikhwan, maka kalian harus memenggal lehernya dan melemparkannya ke jalanan. Seakan-akan kalian menangkap srigala atau kalajengking. Karena orang ini adalah racun, ia adalah setan, ia adalah zindiq, ia memerangi Islam!”

Qaddafi dengan lantang memerintahkan kepada tentara dan pengikut loyalisnya untuk membantai para ulama dan aktivis Islam yang dituduhnya ‘zindiq’ tersebut di manapun mereka berada, tak peduli di tanah suci haram pada bulan haram sekalipun!

Saat menyampaikan khutbah Idul Fithri 1395 H, Qaddafi berpidato: “Namun anak kecil yang sendirian dan sehat harus tetap dibunuh…diculik…musuh-musuh harus ‘dibersihkan’…Jika engkau menemukan seorang dari anjing-anjing yang tersesat itu, maka engkau harus ‘membersihkannya’ walaupun dalam Ka’bah…walaupun di jabal Arafah…walaupun di antara Shafa dan Marwa. Karena darah (nyawa) orang yang membangkang, yang memerangi kalian, memerangi republic yang telah mewujudkan Islam…darah mereka harus ditumpahkan karena mereka adalah antek-antek Amerika dan wajib dibunuh di manapun mereka berada.”

Jadi masih tepatkah taghut yang tiran dan membantai ribuan ulama, santri, dan aktivis Islam di Libya ini dikagumi sebagai pahlawan Islam? Anti zionis-Yahudi dan imperialis salibis Barat?

Bersambung, insya Allah….

(muhib al-majdi/arrahmah.com)

| | Read More »

Muslim Seperti Musuh Pemerintah

Malam takbiran, 29 demonstran muslim tewas oleh peluru rezim Suriah

DAMASKUS (Arrahmah.com) – Jumlah korban tewas di pihak demonstran muslim sunni di beberapa tempat terpisah di Suriah pada Sabtu malam (5/11/2011)meningkat menjadi 29 orang. Sebanyak 20 orang di antaranya tewas oleh peluru aparat rezim Suriah yang mengepung provinsi Homsh.

Sebelumnya aliansi demonstran lokal menyebutkan bahwa sebanyak 27 warga sipil muslim sunni tewas oleh tembakan tank militer rezim Suriah. Namun laporan terakhir aliansi demonstran nasional menyebutkan jumlah korban tewas bertambah dua orang. Laporan itu juga menyebutkan sebanyak 20 orang di antaranya tewas dalam penyerbuan tank-tank militer terhadap para demonstran muslim sunni di provinsi Homsh.

Para aktivis demonstran Homsh melaporkan dari lapangan bahwa bangunan-bangunan terbakar hebat oleh gempuran tank, roti habis, dan para korban yang tertembak berjatuhan di jalan raya, lalu mati pelan-pelan akibat luka parah tanpa ada tenaga medis dan kemanusiaan yang bisa mengevakuasi mereka. Tembakan tank-tank militer terkonsentrasi ke distrik Bab Amru, sebuah kampung warga miskin yang berjarak beberapa kilometer dari pusat kota Homsh. Aparat militer rezim Nushairiyah Suriah menuding Homsh sebagai tempat persembunyian para tentara yang desersi dan memihak para demonstran muslim sunni.

Rami Abdurrahman, seorang tokoh oposisi pemerintah yang berada dalam pembuangan menuturkan kepada Reuters bahwa kondisi provinsi Homsh sangat mencekam. Tembakan tank setiap saat menyalak, warga merasakan ketakutan, dan mereka kekurangan bahan makanan dan obat-obatan.

Lembaga pengawas kemanusiaan Suriah juga melaporkan bahwa ribuan warga muslim di distrik Khan Syaikhun mengiringi pemakaman jenazah seorang tentara berusia 20 tahun dan seorang polisi yang dihukum mati oleh rezim Suriah, karena menolak perintah rezim untuk menembak mati para demonstran hari Jum’at (4/11/2011) yang lalu. Meski di atas kertas pada hari Rabu (2/11/2011) Bashar Asad telah menerima proposal penghentian kekerasan yang diajukan Liga Arab, namun realita di lapangan membuktikan mesin perang militer rezim Asad tak pernah berhenti membantai demonstran muslim sunni Suriah.

(muhibalmajdi/arrahmah.com)

| | Read More »

Hati2 Pengguna FB dan Twitter

CIA menguntit para pengguna Twitter dan Facebook di seluruh dunia

WASHINGTON (Arrahmah.com) - AP melaporkan pada hari Jumat (4/11/2011) bahwa badan intelijen pusat Amerika Serikat selama ini juga melakukan aksi pengintaian terhadap lebih dari lima juta tweets tiap harinya.

Tindakan ini dilakukan untuk mengawasi gerak-gerik para ‘pemberontak’, ‘militan’, aktivis atau diplomat yang menyiarkan informasi melalui Twitter, Facebook, atau sejumlah jejaring sosial lainnya.

Di kantor Open Source Center, tim analis CIA yang diketahui dengan nama “vengeful librarians” juga mengawasi surat kabar, statsiun televisi, statsiun radio, chats room, serta semua bentuk media sosial lainnya dalam berbagai bahasa, dari seluruh dunia.

CIA mempelajari serta me-recheck materi informasi yang mereka awasi secara sembunyi-sembunyi untuk membentuk sebuah snapshot dari suasana di Pakistan (setelah serangan Navy SEAL yang digembar-gemborkan menewaskan Syaikh Usamah bin Laden), pemberontakan yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara, mengawasi gerak-gerik Cina, Iran, Rusia, Korea, dan negara-negara lainnya.

Tim pengawas ini dibentuk di bawah mandat Komisi 11 September, yang berfokus terutama pada kontraterorisme dan kontraproliferasi. (althaf/arrahmah.com)

Sumber

| | Read More »

IDUL ADHA MEMILUKAN DAN MEMALUKAN

Seperti tahun-tahun sebelumnya saya sholat ied di tempat yang dekat dengan tempat tinggalku. Pagi-pagi berkumpul di belakang masjid dekat rumah, berbaur dengan masyarakat sekitar dan mahasiswa asing lainnya. Usai melaksanakan sholat ied, seperti rutinitas biasanya di Masjid Assalam masyarakat Indonesia yang ada di Mesir berkumpul untuk merayakan ied bersama. Walaupun tidak bertemu langsung dengan sanak saudara di tanah air, setidaknya kehadiranku di Masjid Assalam bisa mengobati sedikit kerinduan akan suasana hari raya di tanah air.

Dengan semangat aku mengajak temen-temen serumah untuk pergi ke Masjid Assalam, mengikuti ramah tamah bersama teman-teman dan saudara setanah air. Tiba di Masjid Assalam acara sholat ied telah usai. Saya bersama temen-temen langsung masuk ke pelataran masjid melalui gerbang utama. Di sana sudah berdiri beberapa petugas yang membagikan kupon untuk mengambil jatah makan. Dalam benakku, bagus juga ide membagikan kupon ini, agar tidak terjadi kecurangan-kecurangan ataupun masalah dalam pendistribusian makanan. Namun ketika sampai di tempat pembagian makan ternyata jatah makan sudah habis. Saya lihat ternyata yang belum dapat makan bukan hanya saya, tapi temen-temen yang lainpun masih banyak yang belum mendapatkan jatah makan. Dengan bermodalkan selembar kupon aku mengajak beberapa temen-temen untuk mengambil makanan di tempat putri. Namun sesampai digerbang ada panitia yang bilang kalau kita tidak usah ke tempat putri, cukup menunggu sebentar nanti jatah makanan akan diambil dari tempat putri. Tapi sebagian mahasiswa tetap keluar gerbang menuju gerbang putri untuk mengambil jatah makan. Akupun mengikuti mereka.

Setiba di gerbang putri di sana sudah menunggu dua orang local staff KBRI Cairo, yang satu membagikan jatah makanan kepada teman-teman mahasiswa yang memberikan kupon dan yang satu lagi mengawasi dan menjaga gerbang putri. Sembari menunggu dapat jatah makan saya melihat ada beberapa ibu-ibu Mesir yang ingin masuk ke bagian tempat makan putri. Petugas yang menjaga gerbang langsung melarang dan melerai agar mereka tidak masuk. Saya sempat miris melihatnya. Beberapa ibu-ibu dengan pakaian masyarakat biasa disuruh pergi dari depan gerbang. Malu rasanya. Betapa tidak, selama ini saya ataupun teman-teman mahasiswa sering mendapatkan bantuan dari orang-orang mesir yang kalau diuangkan harganya jauh lebih mahal dari satu porsi makanan yang mereka minta. Bahkan kemarin saya sendiri yang ikut menerima sumbangan daging dari dermawan Mesir. Ya Robbi, sepantasnyakah kebaikan masyarakat Mesir dibalas dengan cara seperti itu.

Di satu sisi memang ada betulnya tidak membolehkan masuk ibu-ibu Mesir ke dalam tempat makan putri. Bisa jadi setelah mereka mendapat makanan, kemudian memanggil teman-teman mereka yang lain. Tapi saat itu saya lihat jumlah mereka tidak lebih dari 10 orang, apakah tidak ada jatah lebih dalam benakku. Masa untuk memberikan jatah lebih saja KBRI tidak mampu, padahal ada anggaran tersendiri untuk hal ini, apalagi acara seperti ini hanya ada 2X dalam setahun. Kalaupun ada lebih jatah porsi makanan insya Allah tidak mubazir, karena bisa dibawa pulang untuk makan siang atau makan malam.

Saat pembagian jatah makanan di depan gerbang beberapa mahasiswa ada yang punya ide untuk mengumpulkan kupon dan langsung mengambil dalam porsi banyak sesuai kupon yang ada, mungkin itu dilakukan untuk membantu mengurangi kerumunan orang yang berebut mengambil makanan. Akupun mengikuti langkahnya. Kukumpulkan 4 kupon punya teman-teman termasuk saya dan langsung meminta kepada petugas yang ada. Alhamdulillah petugas dari KBRI yang membagikan makanan langsung memberikan jatah makan sesuai kupon yang kuberikan kepadanya. Namun tiba-tiba petugas dari KBRI yang menjaga gerbang melarang saya untuk mengambil empat porsi. Saya sempat kaget, karena dia melarang saya dengan nada yang tidak etis untuk diucapkan seorang pejabat KBRI kepada mahasiswa. Seharusnya ucapan seperti itu hanya cocok dilontarkan untuk seorang babu ataupun bawahan dia. Dalam hatiku kenapa dia melarang saya, padahal saya sudah menyerahkan kupon kolektif, dan saya tidak mengambil melebihi jatah yang ada. Sambil menahan emosi saya lebih memilih mundur dari gerbang dan memberikan jatah makanan ke teman-teman saya yang sudah mengumpulkan kupon tadi. Oh ya, ada yang lupa, ternyata saya belum mengambil jatah minuman, akhirnya saya mengambil jatah minuman, tapi mengambilkan bukan dari tempat yang sama, untuk menghindari agar tidak terbawa emosi.

Tiba-tiba datang seorang bapak yang tidak asing lagi menurutku. Karena beliau saya pandang lebih banyak jasanya dibanding “Penjaga Gerbang” tadi. Beliau adalah orang yang menjadi donatur dalam penyaluran beasiswa BWAKM. Ketika beliau akan masuk gerbang tiba-tiba penjaga gerbang tadi melarang dengan suara yang menurut saya tidak sopan dan tidak etis untuk diucapkan dari seorang pejabat KBRI. Ternyata beliau ingin ketemu istrinya di dalam ruang makan putri, namun penjaga gerbang malah bilang “Ditelpon saja”. Lagi-lagi saya menyayangngkan nada bicaranya yang menurut saya kurang sopan. Saya lihat bapak tersebut hampir naik pitam karena mendapatkan perlakuan tersebut dari penjaga gerbang ini. Untungnya ada salah seorang local staff yang datang dan langsung bilang ke penjaga gerbang “Dia adalah bapak N” sembari menggandeng bapak N tadi ke dalam gerbang. Saya tahu local staff yang membawa bapak itu dulunya adalah pengurus BWAKM dan sangat dekat dengan bapak N tadi.

Hanya menahan nafas. Dengan bermodalkan selembar kupon makan, dari jauh saya lihat banyak mahasiswa yang berebut untuk mendapatkan jatah makanan mereka. Pemandangan yang memalukan dan memilukan dalam hatiku. Selama saya hidup di Mesir dan berkali-kali mengikuti ied bersama masyarakat Indonesia yang lainnya, belum pernah ada kejadian yang memalukan seperti saat ini. Bagaimana tidak, mereka berebut jatah makanan di depan gerbang yang posisinya pas di depan jalan raya tempat lalu lalang kendaraan umum dan orang banyak. Seharusnya pemandangan seperti ini tidak perlu terjadi bila sistim pendistribusiannya tertata dengan baik.

Pada akhirnya jatah makanan habis. Dalam benakku, sepertinya ada yang aneh. Kenapa mereka tidak mendapatkan jatah makanan padahal mereka sudah mendapatkan kupon. Seharusnya dengan adanya kupon bisa meminimalisir terjadinya penyalahgunaan distribusi jatah makanan. Kalau alasan mereka tidak mendapatkan jatah makanan karena mereka datang terlambat dan tidak dapat kupon, menurut saya itu masih wajar. Karena bisa saja KBRI menyediakan jatah makanan misalnya 2000 porsi, kemudian mereka datang setelah jatah kupon 2000 habis. Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa orang-orang yang sudah menerima kupon ternyata mereka tidak mendapat makanan. Kemanakah larinya makanan tersebut? Haruskah KBRI memberikan jatah porsi makanan yang pas ataupun kurang dibandingkan memberi jatah makanan lebih? Seharusnya KBRI dengan financial yang ada mampu untuk memberikan jatah lebih untuk porsi makanan hari raya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Memang lebaran sebelumnya ada kabar banyak sisa makanan, karena masyarakat Indonesia yang datang ke Masjid Assalam sedikit. Namun pengurangan jatah porsi yang terlalu drastis menurut saya itu suatu kebodohan yang justru bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan malah merusak citra KBRI sendiri yang seyogyanya menjadi wakil pelayanan masyarakat di luar negeri.

Entah siapa yang harus disalahkan, apakah KBRI yang mempunyai otoritas dana dan pemegang tender, atau PPMI yang setahu saya setiap ada acara yang berkenaan dengan mahasiswa mereka selalu dilibatkan, atau oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab? Tidak seharusnya momen untuk saling bermaafan berubah dengan momen yang menyedihkan.
Mudah-mudahan wajah “penjaga gerbang” tadi bukanlah cerminan bapak-bapak KBRI yang ada, yang tidak seyogyannya memperlakukan mahasiswa seperti seorang babu ataupun bawahannya. Mudah-mudahan kejadian ini tidak terulang lagi dimasa yang akan datang. Mudah-mudahan kedepannya ada jatah lebih sehingga kita bisa memberi makan beberapa ibu-ibu Mesir yang meminta makanan, karena setahu saya kita, khususnya masyarakat Indonesia yang ada di Mesir banyak berhutang budi dengan masyarakat Mesir. Tidak sepantasnya kita membalas kebaikan dengan keburukan. Mudah-mudahan…. Mudah-mudahan…. dan mudah-mudahan….


NB: Saya menulis catatan ini hanya sekedar ingin kedepan semuanya lebih baik. Bila ada pihak yang merasa dirugikan saya minta maaf. Taqobballahu minna wa minkum, Kullu ‘amin wa antum bi khoirin. Selamat Hari Raya Idul Adha 1432 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Sumber

| | Read More »

Presiden SBY dan Zionis Amerika-Israel

Besarnya Pengaruh Zionis di Pemerintahan SBY

Pengaruh Zionis di pemerintahan SBY saat ini begitu besar, termasuk di kalangan intelijen, kepolisian dan departemen atau kementerian. Hal itulah yang menyebabkan para menteri tidak mempunyai policy yang jelas, sementara SBY sebagai presiden tidak mempunyai pendirian yang tegas.

Selain itu, pemerintahan SBY telah membawa misi Yahudi Zionis. Seperti adanya privatisasi BUMN, adu domba antar pemimpin masyarakat seperti dalam kasus bailout Bank Century, kasus Antasari Azhar dan sebagainya. Hal itu dimaksudkan agar NKRI pecah sehingga sumber daya alam yang berupa barang tambang dikuasai antek-antek Yahudi Zionis.

Selain itu banyak lambang-lambang Yahudi di Indonesia seperti mata satu sebagai lambang ICW, Bintang Daud di Gedung Kementerian Keuangan, Jangka, huruf G seperti pada Global TV, lambang huruf 13 dan sebagainya.

Buktinya lagi pemerintahan SBY tidak bersedia membubarkan Ahmadiyah sebagai akibat tekanan gerakan Zionisme internasional. Selain itu selalu kerjasama dengan lembaga donor internasional yang dikuasai Zionis seperti World Bank, ADB, IMF, Partnership dan sebagainya.

Kalau pemerintahan sekarang seolah-olah membela perjuangan bangsa Palestina, sesungguhnya itu hanya lips service saja, hanya untuk menyenangkan umat Islam Indonesia yang mayoritas(source).

‘The Age’ Rilis Konspirasi SBY, Pihak Istana Marah

Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono secara pribadi telah campur tangan untuk mempengaruhi jaksa dan hakim demi melindungi tokoh-tokoh politik korup dan menekan musuh-musuhnya, serta menggunakan badan intelijen negara demi memata-matai saingan politik dan, setidaknya, seorang menteri senior dalam pemerintahannya sendiri.

Demikian kutiban informasi dari situs Wikileaks yang dilansir harian nasional Australia, The Age, yang bertajuk “Yudhoyono Abused Power” di halaman utamanya.

The Age merilis berita bocoran Wikileaks bertepatan dengan kunjungan Wakil Presiden Boediono ke Canberra, Jumat (11/3/11), untuk bertemu dengan deputi Perdana Menteri Australia, Wayne Swan, untuk mendiskusikan masalah reformasi birokrasi di Indonesia bersama para pejabat negara.

Menanggapi berita miring terkait presiden, pihak istana Kepresidenan RI mengatakan dengan tegas bahwa berita tersebut sekadar gosip. Saat ini pihak istana sedang mempersiapkan opsi untuk menanggapi pemberitaan media Australia tersebut.

“Ada beberapa opsi. Yang pasti, sejauh pantauan kita, tidak ada nilai kebenaran pemberitaan tersebut,” kata staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional, Teuku Faizasyah, kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (11/3/11).

Lebih jauh dikatakan bahwa pihak pemerintah RI sdah berkomunikasi dengan pemerintah AS dan juga Kedubes AS.

Selain itu, Faizasyah juga menegaskan bahwa pemberitaan serupa juga dialamatkan kepada negara-negara lain, namun banyak negara yang meragukan kesahihan bocoran Wikileaks.

“Lihat reaksi berbagai negara besar. Bahkan Rusia, Timur Tengah mempertanyakan kebenaran dari informasi yang terkesan mengada-ada,” katanya.

Pemberitaan The Age mengutip Wikileaks juga menyangkut informasi penyuapan Jusuf Kalla sebesar 6juta dolar untuk bisa memegang kendali Partai Golkar. Menyebutkan juga obsesi istri presiden SBY yang memperkaya diri memanfaatkan koneksi politik(source).

SBY dan logo Bintang David (Hexagram) Zionis Israel
Cara berpakaian seorang kepala negara tentu sangat berbeda dengan kita, rakyat kebanyakan. Jika kita sering asal pakai, yang penting pakaian itu masih layak dipakai, maka seorang kepala negara harus melalui serangkaian prosedural yang sudah baku. Ada anggaran negara khusus untuk itu (masih ingatkan peristiwa mengagetkan beberapa tahun lalu ketika Pemda DKI menganggarkan dana miliaran rupiah hanya untuk pos busana Gubernur Sutiyoso per tahun? Nah, untuk busana kepresidenan tentu lebih besar lagi dananya. Semua itu pakai uang rakyat!), ada konsultan busana (terlebih bagi seorang SBY yang memang dikenal sangat “Jaim”) sehingga semua busana yang dipakainya tidaklah sembarangan dan memiliki pesan tertentu yan ingin disampaikannya, ada penyuplai dan penjahit khusus kepresidenan, dan sebagainya.

Nah, ketika seorang SBY mengenakan batik dengan simbol Bintang David—kita sudah tahu apa makna di balik simbol tersebut—maka tentulah itu bukan sembarangan pula. Ada pesan-pesan khusus di balik itu, entah kepada siapa hendak disampaikan. Corak batik sangat banyak, tentu bukan suatu ketidaksengajaan jika dia memilih yang ada cetakan simbol Bintang David tersebut, walau bentuknya sudah agak disamarkan.

SBY bisa saja berkelit jika batik itu dipakai dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, bukan sebagai Kepala Negara. Namun ini pun menimbulkan tanda tanya yang besar, karena jika benar apa yang dikatakannya, maka pakaian itu jelas pilihan hatinya sendiri. SBY adalah lulusan terbaik AKABRI di angkatannya, tentu bukan orang yang bodoh atau awam untuk itu. Saya menduga hal tersebut dilakukannya dengan pengetahuan yang cukup.

SBY memang dekat dengan Amerika, karena dia sendiri pernah mengatakan secara terus terang jika Amerika Serikat adalah, “My Second Country”. Kedekatannya ini juga diwujudkan dalam tata ruang dan tata panggung kampanye pilpres-nya kemarin yang menjiplak habis model kampanye tim sukses Presiden AS Barack Obama.

Kita juga tahu, di belakang SBY terdapat orang-orang yang selama ini dikenal luas sebagai orang-orang Indonesia yang berpaham Liberal. Apakah itu tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) seperti Rizal Mallarangeng, atau pun ekonom Neo-Liberal seperti Boediono (walau gak ngaku), Chatib Basri, Sri Mulyani, M. Ichsan, dan sebagainya. Sebab itu, secara pribadi saya tidak habis mengerti mengapa ada tokoh-tokoh yang mengaku pemimpin umat, apalagi sampai mengatasnamakan tokoh dakwah, yang mendukung mesin Liberalis ini dalam pilpres kemarin. Islam tidak akan pernah bisa bersatu dengan Kapitalisme, Liberalisme, dan juga Komunisme. Jika ada orang yang mengaku sebagai orang Islam atau tokoh umat Islam, yang ternyata bisa bersatu dengan salah satu dari ketiga ideologi Dajjal itu, maka jelas Islamnya patut dipertanyakan.

Hal ini tambah menarik ketika ada informasi jika rumah ayah dari SBY yang ada di Pacitan-Jawa Timur ternyata juga memajang simbol Bintang David. Klop-lah sudah. Kita menjadi semakin paham dengan orang yang satu ini.

Tanpa perlu berpanjang lebar, sebagai orang yang kritis dan menyerahkan loyalitas hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, bukan kepada pentolan partai, kita tentu sudah bisa membaca orientasi presiden negara kita ini sekarang. Semuanya berpulang kepada penilaian kita masing-masing. Dan saya berdoa, semoga negara dan bangsa ini selalu mendapat pertolongan dari Allah SWT agar terhindar dari banyaknya bencana seperti yang terjadi lima tahun belakangan ini. Amien. (source)

Video Harun Yahya Tentang THE_KNIGHTS TEMPLARS_AND FREEMASONRY



Sumber








| | Read More »

Qaddafi 3

Mengungkap rahasia kelam sosok Qaddafi: Fir'aun, Toghut, dan Musailamah al-Kadzab dari Libya (3)

(Arrahmah.com)- Dalam dua artikel sebelumnya (bagian 1, bagian 2), kita telah menguraikan alasan yang melatar belakangi berbagai lembaga Islam internasional dan ulama Islam dari berbagai negara menjatuhkan vonis kafir murtad terhadap taghut Libia, Moammar Qaddafi. Sampai akhir hayatnya, Qaddafi tidak pernah menarik kembali berbagai ucapan, perbuatan, dan kebijakan kufurnya. Seruan, ajakan, dialog, dan utusan para ulama Islam yang mengajaknya bertaubat tak pernah ia gubris. Dalam artikel ketiga ini, kita akan mengangkat ‘kegilaan-kegilaan’ Qaddafi yang lain, semoga menjadi renungan dan pelajaran bagi setiap muslim.

6. Qaddafi mengaku dirinya adalah seorang nabi

Al-Qur’an, as-sunnah, dan ijma’ ulama menegaskan bahwa nabi Muhammad SAW adalah penutup seluruh nabi dan rasul. Sepeninggal beliau, tidak ada lagi seorang nabi atau rasul yang diutus ke muka bumi. Barangsiapa mengklaim dirinya sebagai nabi sepeninggal beliau atau membenarkan orang yang mengklaim dirinya sebagai nabi, maka orang tersebut telah kafir murtad menurut ijma’ ulama karena mendustakan Al-Qur’an, as-sunnah, dan ijma’ ulama di atas.

Allah SWT berfirman,

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab (33): 40)

Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda,

“Dahulu Bani Israil dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, maka ia digantikan oleh nabi lainnya. Sesungguhnya tiada seorang nabi pun sepeninggalku, namun yang ada adalah para khaifah dan jumlah mereka banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Sa’ad bin Abi Waqash bahwasanya Rasulullah SAW berangkat ke medan perang Tabuk dan mengangkat Ali sebagai penggantinya (untuk sementara waktu mengurus kota Madinah), Maka Ali berkata, “Apakah Anda akan meninggalkan aku bersama anak-anak dan kaum wanita?” Maka Nabi SAW bersabda, “Apakah engkau tidak rela jika kedudukanmu dariku seperti kedudukan nabi Harun dari nabi Musa (saat nabi Musa menerima wahyu di bukit Thursina, nabi Harun menggantikan posisinya memimpin Bani Israel, pent)? Hanyasaja tiada seorang nabi pun sepeninggalku.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Tsauban RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya di tengah umatku akan muncul tiga puluh orang Kadzab (pembohong besar), masing-masing di antara mereka mengklaim dirinya adalah nabi. Padahal aku adalah penuup seluruh nabi, tiada seorang nabi pun sepeninggalku.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, al-Baihaqi, dan al-Baghawi)

Imam Ibnu Katsir berkata, “Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memberitahukan dalam kitab-Nya dan Rasul-Nya SAW telah memberitahukan dalam sunnah mutawatir bahwasanya tiada seorang nabi pun sepeninggal beliau. Hal itu agar mereka mengetahui bahwa setiap orang yang mengklaim kedudukan kenabian sepeninggal beliau adalah seorang pembohong besar, pendusta, orang yang sesat lagi menyesatkan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/502)

Qaddafi mengklaim dirinya adalah seorang Nabi. Hal itu diungkapkannya dalam wawancara dengan wartawati Italia yang menulis biografinya, Mirella Bianco. Wartawati itu bertanya kepadanya, “Wahai utusan Allah (Rasulullah), apakah Anda dahulu seorang penggembala kambing?” Qaddafi menjawab, “Ya, tiada seorang nabi pun yang tidak melakukan hal itu.” (Qaddafi Rasul ash-Shahra’, hlm. 241, karya Mirella Bianco)

Berkaitan dengan kelancangan Qaddafi mengklaim dirinya adalah nabi ini, beberapa lembaga Islam internasional telah mengadakan pertemuan khusus untuk membahasnya di kantor pusat Rabithah Alam Islami di Jedah, pada hari Selasa-Kamis tanggal 11-14 Dzulhijah 1400 H (20-23 Oktober 1980 M). Rabithah Alam Islami, Dewan Masjid Interasional, dan 39 ulama Islam dari berbagai negara yang ikut serta dalam pertemuan tersebut mengeluarkan pernyataan sikap bersama.

Di antara isinya adalah vonis kafir-murtad untuk Qaddafi, dan ajakan kepadanya untuk bertaubat, mencabut seluruh kekafirannya, dan kembali masuk Islam. Rabithah Alam Islami mendokumentasikan hasil pertemuan berbagai lembaga Islam Internasional dan para ulama Islam dari berbagai negara tersebut dalam sebuah buku yang diterbitkan tahun 1406 H, berjudul Ar-Raddu asy-Syaafi ‘ala Muftarayat Qaddafi (Bantahan tuntas atas kebohongan-kebohongan Qaddafi).

Qaddafi bahkan mengklaim dirinya tidak bisa dimintai pertanggung jawaban oleh siapa pun atas apapun yang ia kerjakan, sebagaimana Allah SWT tidak dimintai pertanggung jawaban atas apa pun yang Dia kehendaki dan Dia lakukan. Qaddafi membandingkan dirinya dengan Allah SWT, seakan-akan Qaddafi-lah pencipta bumi Libya dan seluruh penduduknya. Dalam pidato pembukaan Konferensi Kebangsaan di ibukota Tripoli pada tanggal 27 Januari 1990 M, Qaddafi mengatakan:

“Saya tidak dimintai pertanggung jawaban di hadapan siapa pun. Orang yang melakukan revolusi (maksudnya adalah Qaddafi sendiri, edt) bukanlah orang yang ditunjuk. Engkau tidak memberinya tugas untuk melakukan revolusi. Dia sendiri yang melakukan revolusi, berkorban sendiri, mengemban tanggung jawabnya sendiri. Dia hanya bertanggung jawab kepada hati nuraninya sendiri. Ia tidak dimintai pertanggung jawaban di hadapan satu orang lain pun.

Allah adalah Sang pencipta, pencipta langit dan bumi. Siapa yang akan melakukan hisab (perhitungan amal dan pengadilan atas semua perbuatan, edt) terhadap-Nya? Dia mendatangkan kepada kita angin ribut, badai topan, dan cuaca. Dia mendatangkan hari kiamat. Dia menghancurkan seluruh dunia. Siapa yang akan menanyai-Nya (meminta pertanggung jawaban-Nya, edt)? Sekarang, tidak ada. Tidak ada seorang pun yang menunjuk-Nya dengan mengatakan, “Engkau menjadi tuhan, lalu apa yang akan Kau lakukan?” Ini tidak benar karena Dia SWT adalah Sang Pencipta Yang mengadakan (langit dan bumi, edt). Dia mengatakan kepada segala sesuatu ‘Jadilah!, niscaya ia akan terwujud. Dia melakukan apa pun yang Dia kehendaki. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Pencipta langit dan bumi. Oleh karena itu, kami yang melaksanakan revolusi hanya bertanggung jawab di hadapan hati nurani kami.”

Sungguh benar pernyataan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah al-Harrani, “Tiada seorang pun yang mengklaim dirinya adalah nabi, melainkan pada dirinya akan nampak jelas kebodohan, kedustaan, kebejatan, dan penguasaan (tipuan) setan atas dirinya, yang akan diketahui dengan jelas oleh siapa pun yang memiliki akal.” (Nawaqidhul Iman al-Qauliyah wal ‘Amaliyah, hlm. 185, karya Dr. Abdul Aziz bin Muhammad al-Abdul Lathif)



7. Qaddafi menerapkan hukum positif (hukum jahiliyah) dan tidak menerapkan hukum Allah

Qaddafi menegakkan pemerintahannya di atas dasar sekulerisme, yaitu demokrasi ala Qaddafi dan sosialisme. Qaddafi mencampakkan hukum Allah dari kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya, dan militer Libya. Ia melakukan tahrif atas Al-Qur’an, mengingkari As-sunnah, dan menyingkirkan syariat Allah dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai gantinya ia menerapkan sistem jahiliyah modern, yaitu al-kitab al-akhdar. Itulah kitab suci Qaddafi yang diwahyukan kepadanya oleh setan jin dan setan (tuan zionis, salibis, sosialis-komunis, dan paganis internasional). Qaddafi memerangi semua muslim, organisasi Islam, dan gerakan Islam di Libya yang menuntut —apalagi memperjuangkan dengan jihad fi sabilillah — penegakan syariat Allah di bumi Libya.

Seperti para taghut dan gembong kekafiran lainnya di negeri-negeri kaum muslimin, Qaddafi juga melakukan kamuflase untuk menutup-nutupi kekafiran dan semua usahanya dalam memerangi syariat Islam. Di antaranya, Qaddafi mengangkat semboyan ‘Al-Qur’an adalah syariat (undang-undang) masyarakat’. Qaddafi juga membuat beberapa yayasan Islam dan organisasi Islam. Seperti Jam’iyah ad-Da’wah al-Islamiyah al-‘Alamiyah (Organisasi Dakwah Islam Internasional) yang bekerja keras untuk menampilkan sosok Qaddafi sebagai satu-satunya pemimpin sejati kaum muslimin sedunia. Organisasi ini menjadi kepanjangan tangan Qaddafi dalam memuluskan tujuan-tujuannya di dalam negeri maupun luar negeri.

Meski banyak kamuflase ‘keagamaan’ telah ditempuh oleh Qaddafi, jutaan kaum muslimin di Libya dan lebih dari satu miliar kaum muslimin di luar Libya telah menjadi saksi hidup bahwa seama 42 tahun pemerintahannya, syariat Islam tidak diterapkan oleh Qaddafi di Libya. Bukan syariat Allah yang berdaulat di Libya, bukan pula undang-undang sekuler era monarchi Libya, melainkan syariat (baca: undang-undang dan pedoman hidup) Qaddafi.

Undang-undang positif (undang-undang jahiliyah hasil ketetapan manusia yang tidak berdasar syariat Allah, bahkan menyelisihi syariat Allah, edt) yang berlaku pada masa monarchi Libya telah dinyatakan tidak berlaku oleh Qaddafi pada tahun 1973 M. Sejak saat itu, semua perundang-undangan, hukum, dan peraturan dalam semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara di Libya adalah hasil ketetapan dan keinginan (baca: hawa nafsu) Qaddafi belaka. Dialah diktator yang memiliki kedaulatan mutlak untuk menentukan semua hukum dan peraturan.

Qaddafi menjalankan semua keinginan dan kediktatorannya tersebut dengan program nasional yang dinamakan ‘Asy-Syar’iyah ats-Tsauriyah’ (Kedaulatan Revolusi). Bila kita bandingkan program Qaddafi tersebut dengan keadaan di negeri ini, kurang lebih seperti penerapan Asas Tunggal Pancasila dengan penataran nasional P-4 dan GBHN-nya pada masa orde baru.

Asy-Syar’iyah ats-Tsauriyah mulai diluncurkan para bulan Maret 1990 M, dibidani oleh sebuah lembaga Negara yang dibentuk dan diarahkan oleh Qaddafi, bernama Mu’tamar Asy-Sya’b Al-‘Am (Konferensi Umum Bangsa). Dalam butir-butir Asy-Syar’iyah ats-Tsauriyah ditegaskan antara lain:

Semua arahan pemimpin revolusi, kolonel Moammar Qaddafi, wajib dilaksanakan.
Asy-Syar’iyah ats-Tsauriyah secara otomatis memiliki kekuatan hukum berdasar Undang-undang Revolusi, sehingga tidak menerima amandemen dan pembatalan.
Dalam pidato pembukaan Konferensi Umum Bangsa di ibukota Tripoli tanggal 27 Januari 1990 tersebut, Qaddafi mengatakan di depan seluruh peserta konferensi:

“Saya tidak memerlukan penyerahan kekuasaan dari kalian, karena aku sendiri telah memiliki seluruh bentuk kekuasaan berdasar Kedaulatan Revolusi yang saya rebut dengan kekuatan dari tangan para gubernur, mentri, dan raja pada masa yang telah lewat. Kami-lah yang kini menduduki kursi-kursi mereka, sehingga kami pula yang berhak menetapkan seluruh keputusan. Sejak saat itu, kekuasaan telah beralih ke tangan para pelaku revolusi. Kini saya berada dalam posisi yang telah saya raih dengan kekuatan. Tiada seorang pun yang dapat merebutnya dari saya, kecuali dengan kekuatan. Saya memerintah berdasar Kedaulatan Revolusi, maka saya tidak bertanggung jawab kepada pihak (lembaga Negara, edt) manapun. Karena tidak ada satu pihak pun yang menyerahkan kekuasaan kepada saya, maka tidak ada satu pihak pun yang bisa memerika (meminta pertanggung jawaban pemerintahan, edt) saya. Saya memiliki Kedaulatan Revolusi, Kedaulatan Revolusi tidak bertanggung jawab kepada siapa pun, kecuali di hadapan hati nuraninya sendiri.”

Jika seorang Qaddafi lancang menyejajarkan dirinya dengan Allah SWT, berani melakukan tahrif terhadap Al-Qur’an, berani melecehkan Rasul-Nya SAW dan mengingkari sunahnya…anda bisa membayangkan hati nurani sesuci apakah yang dimiliki oleh seorang Qaddafi??? Tentu saja hati nurani yang telah mati. Minimal hati nurani yang telah sakit parah, oleh penyakit kekufuran, kezindikan, kesombongan, dan kebencian terhadap Islam.

Qaddafi telah memerangi setiap orang yang menuntut penerapan syariat Islam di bumi Libya. Qaddafi membantai dan memenjarakan banyak ulama, santri, aktivis Islam, dan pemuda Islam yang menginginkan hidup berbangsa dan bernegara di bawah naungan Al-Qur’an dan As-sunnah. Qaddafi memberangus semua muslim dan organisasi Islam di Libya yang mengajaknya untuk mengakui ‘kedaulatan dan hak menetapkan undang-undang sepenuhnya milik Allah SWT, bukan milik Qaddafi atau manusia, siapa pun dirinya’.

Qaddafi memaksa para wanita muslimah untuk mengikuti akademi militer sehingga kehormatan mereka dinodai, kecantikan dan aurat mereka dipamerkan di hadapan kaum pria, ikhtilat (campur-baur wanita dan laki-laki yang bukan mahram) menjadi budaya, dan perbuatan keji menyebar luas di kalangan rakyat dan pejabat.

Qaddafi merampas harta kekayaan rakyat muslim Libya secara zalim, atas nama ‘aparat Revolusi menggerebek tempat-tempat produksi’. Qaddafi memberi kekuasaan penuh kepada para gelandangan, pengangguran, dan buruh untuk menguasai rumah-rumah warga muslim Libya, atas nama ‘rumah untuk penghuninya’. Bukankah ini adalah penerapan ajaran komunisme-sosialisme di Libya, seperti halnya PKI di zaman orde lama yang menggerakkan BTI dan SOBSI untuk merampas lahan pertanian dan perkebunan miliki perusahaan dan warga muslim non-PKI?

Menghalalkan dan mengharamkan adalah hak mutlak Allah SWT. Rasulullah SAW ‘hanya’ menghalalkan dan mengharamkan sesuatu berdasar wahyu Allah SWT kepadanya. Siapa pun yang ‘menyaingi’ Allah dalam hak menghalalkan dan mengharamkan ini, dengan menghalalkan hal yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya atau mengharamkan hal yang telah dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya, niscaya ia telah kafir murtad berdasar nash Al-Qur’an, as-sunnah, dan ijma’ ulama.

Allah SWT berfirman (yang artinya):

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ini halal dan ini haram, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS. An-Nahl (16): 116)

Allah SWT menerangkan bahwa para pemimpin agama Yahudi dan Nasrani yang mengharamkan hal yang dihalalkan Allah, dan menghalalkan hal yang telah diharamkan Allah adalah ‘tuhan-tuhan tandingan’ dan kaum musyrik. Allah berfirman (yang artinya):

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah (9): 31)

Makna ayat ini dijelaskan dalam hadits Adi bin Hatim RA, seorang kepala suku Thai penganut agama Kristen. Ia datang kepada Rasulullah SAW untuk masuk Islam. Ia menemui Rasulullah SAW di Madinah dengan mengenakan kalung berbandulkan salib. Maka Rasulullah SAW membacakan ayat tersebut. Adi bin Hatim menjawab, “Wahai Rasulullah, kami (pemeluk Kristen) tidak menyembah para pendeta kami.”

Rasulullah SAW bertanya, “Bukankah ketika para pendeta kalian menghalalkan hal yang diharamkan Allah, maka kalian mengikuti ajaran mereka? Begitu pula ketika para pendeta kalian mengharamkan hal yang dihalalkan Allah, maka kalian mengikuti ajaran mereka?’

Adi bin Hatim menjawab, “Memang begitulah keadaannya.”

Rasulullah SAW bersabda, “Itulah yang dimaksud dari menjadikan para pendeta sebagai tuhan selain Allah.” (HR. adalah HR. Ibnu Sa’ad, Abd bin Humaid, at-Tirmidzi, Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Jarir ath-Thabari, Abu Syaikh al-Asbahani, Ibnu Marduwaih, dan al-Baihaqi)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah al-Harrani menulis, “Manusia, kapan saja ia menghalalkan hal yang telah disepakati keharamannya, atau mengharamkan hal yang telah disepakati kehalalannya, atau mengganti syariat (hukum Islam) yang telah disepakati, maka ia telah kafir murtad menurut kesepakatan ulama.” (Majmu’ Fatawa, 3/267)

Qaddafi mewajibkan pengajaran, pemahaman, dan penerapan al-Kitab al-Akhdhar di Libya. Ia adalah sebuah buku karangan Qaddafi yang dijadikan pedoman dan undang-undang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Libya. Qaddafi mensifati buku karyanya tersebut sebagai ‘Injil Abad Modern” yang memiliki kedudukan seperti kabar gembira nabi Isa dan lembaran-lembaran wahyu nabi Musa ‘alaihimas salam.

Tentang proses penulisan, urgensi, kedudukan, manfaat, dan ‘mu’jizat’ al-Kitab al-Akhdhar, Qaddafi mengatakan, “Saya persembahkan kepada kalian, padahal saya adalah manusia Badui yang sederhana. Dahulu saya menunggang keledai, menggembala kambing, berjalan tanpa alas kaki, dan saya menjalani usiaku di antara orang-orang yang sderhana. Saya persembahkan kepada kalian karyaku, al-Kitab al-Akhdar dengan ketiga pasal (bagian pembahasan, edt)nya, yang menyerupai kabar gembira nabi Isa dan lembaran-lembaran wahyu nabi Musa, atau khutbah seorang penunggang unta yang pendek, yang saya tulis dari dalam kemah saya yang telah diketahui oleh dunia, setelah diserang dan dibombardir oleh 170 pesawat pembom dengan tujuan membakar al-Kitab al-Akhdhar karya saya, yang saya tulis dengan tangan saya sendiri. Saya telah mengumpulkan peribahasa-peribahasa, kata-kata mutiara, berbagai fenomena, dan membaca sejarah. Maka saya mendapati umat manusia telah mengarang al-Kitab al-Akhdhar, yang merupakan bukti final kemerdekaan dari kekerasan dan penindasan, menyampaikan kepada kebebasan dan merealisasikan kebahagiaan. Saya mendapati tujuan final manusia adalah kebahagiaan, dan sesungguhnya surga yang dijanjikan atau surga yang hilang adalah kebahagiaan.” (As-Sijil a-Qaumi, hlm. 21)

Al-Kitab al-Akhdhar dengan ketiga pasalnya (politik, ekonomi, dan sosial) dikarang oleh Qaddafi mengikuti trend para taghut dunia yang saat itu menulis pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Al-Kitab al-Akhdhar karya Qaddafi mengikuti jejak penulisan Buku Merah karya Mao Zedong (Mao Tse-tung), pendiri Partai Komunis Cina dan kepala negara pertama Republik Rakyat Cina.

((( Seperti ditulis dalam artikel ‘Little Red Book’ oleh saudara Haris Priyatna dan dimuat di kolom Selisik, Republika, 1 Oktober 2006, pada bulan April 1964, Partai Komunis Cina menerbitkan buku Mao Zhuxi Yulu atau Quotations of Chairman Mao (Kumpulan Kutipan Ketua Mao). Karena ukurannya yang kecil dan sampulnya yang berwarna merah, buku ini lebih dikenal dengan nama The Little Red Book—Buku Merah Kecil. Semua orang Cina pada masa Revolusi Kebudayaan diwajibkan memiliki dan membaca buku ini.

Seperti yang tersirat dari judulnya, buku ini berisi kumpulan kutipan yang diambil dari pidato-pidato dan tulisan-tulisan Mao sepanjang 1927-1964. Dicetak dalam ukuran saku agar mudah dibawa ke mana-mana. Memang, buku ini menjadi fenomenal karena setiap warganegara Cina wajib memiliki, membaca, dan membawanya setiap saat selama pemerintahan Mao Tse-tung. Apabila pada saat razia seseorang didapati tidak membawa buku ini, ia bisa dipukuli di tempat oleh Pengawal Merah atau dihukum penjara kerja paksa selama bertahun-tahun.

Selama Revolusi Kebudayaan, mengkaji buku ini tidak hanya diwajibkan di sekolah-sekolah, tetapi juga menjadi praktik standar di tempat kerja. Semua sektor, baik industri, perdagangan, pertanian, pelayanan sipil, maupun militer membentuk kelompok-kelompok untuk mempelajari buku ini pada jam kerja. Kutipan-kutipan tertentu dari Mao Tse-tung dicetak tebal atau di-highlight merah, dan hampir semua tulisan, termasuk esai ilmiah, harus mengutip kata-kata Ketua Mao)))

Dalam al-Kitab al-Akhdhar, Qaddafi mengungkapkan sejumlah ‘fakta ilmiah’ yang baru pertama kali ditemukan oleh Qaddafi! Dalam pasal ketiga, di bawah judul ‘perempuan’, Qaddafi menulis: “Perempuan dan laki-laki adalah manusia…Perempuan itu makan dan minum sebagaimana laki-laki makan dan minum…Perempuan itu senang dan benci sebagaimana laki-laki senang dan benci…Perempuan itu wanita dan laki-laki itu pria…Perempuan berdasar hal, dokter penyakit-penyakit perempuan mengatakan perempuan itu mengalami haidh dan sakit setiap bulan. Adapun laki-laki tidak mengalami haidh karena ia adalah pria.”

Dalam acara pembukaan Konferensi Internasional Gerakan Politik untuk para pemuda Eropa dan Arab, tanggal 14 Juni 1973 M, Qaddafi menjelaskan tentang ‘teori internasional ketiga’nya dengan mengatakan kepada para peserta, “Teori ini akan membuat agama untuk kita, akan membuat akhlak untuk kita, dan akan membuat hubungan-hubungan baru sebagai panduan dalam menjalin hubungan.”

Di lain waktu, Qaddafi mengungkapkan bahwa al-Kitab al-akhdar bukan buku agama atau buku akhlak. Sebagai seorang sekuleris-sosialis, tentu saja agama versi Qaddafi adalah sebatas ritual ibadah yang mengatur hubungan vertical antara Allah dan makhluk. Adapun hubungan horisontal antara sesama makhluk seperti urusan ekonomi, politik, social, budaya, militer, dan lainnya menurut anggapan Qaddafi bukanlah bagian dari agama, dan agama tidak memiliki aturan pada bidang-bidang tersebut. Qaddafi sendiri mengakui, al-Kitab al-Akhdhar sama sekali tidak berlandaskan kepada Al-Qur’an!

Dalam dialog dengan para ulama dan santri penghafal Al-Qur’an di ibukota Tripoli, Qaddafi mengatakan, “Ketika engkau mengatakan buku ini adalah buku agama, maka dalam kondisi ini engkau berhak berhenti dan membandingkan antara al-Kitab al-Akhdhar dengan agama, sehingga engkau bisa mengatakan buku ini tidak sah menjadi buku agama, karena isinya menyelisihi Al-Qur’an. Namun ketika saya datang dan saya mengatakan kepadamu; ‘Buku ini bukanlah buku agama, melainkan buku ekonomi”, maka saya memiliki buku ‘pendapat-pendapat baru tentang pasar, mobilisasi, prinsip-prinsip perang”. Buku ini tidak mungkin dibandingkan dengan Al-Qur’an, karena sama sekali tidak ada keterkaitan antara buku ini dengan Al-Qur’an. Saya sudah mengatakan bahwa al-Kitab al-Akhdhar menyelesaikan problematika politik dan problematika ekonomi. Namun saya tidak mengatakan ia adalah buku agama, sehingga kita membandingkan antara ia dengan Al-Qur’an, karena jika kita menyelesaikan perbandingan tersebut niscaya kita akan membahayakan Al-Qur’an.”

Anda tentu sudah mampu memahami, kapan Qaddafi membahayakan Al-Qur’an? Qaddafi menyatakan buku karyanya mampu memberikan solusi tuntas atas problem ekonomi dan politik. Sementara ia meyakini Al-Qur’an tidak memberikan pedoman hidup di bidang ekonomi dan politik. Jadi, secara tidak langsung Qaddafi mengakui buku karyanya tersebut lebih tinggi, lebih mulia, lebih bermanfaat, dan lebih sempurna dari Al-Qur’an. Itulah sebabnya Qaddafi menerapkan al-Kitab al-Akhdar buah karya tangannya sendiri sebagai pedoman berbangsa dan bernegara Libya, sementara pada saat yang sama ia mencampakkan Al-Qur’an wahyu Allah SWT dari kehidupan public berbangsa dan bernegara Libya. Aduhai, lancang betul si ‘tuhan sosialis’ dan ‘Musailamah al-Kadzab’ Libya ini.

Allah SWT berfirman (yang artinya),

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”(QS. Al-Maidah (5): 50)

Dalam dialog dengan para ulama dan santri penghafal Al-Qur’an di masjid Maulaya Muhammad, ibukota Tripoli tanggal 3 Juli 1987 tersebut, Qaddafi mengancam orang-orang yang mengatakan al-Kitab al-Akhdar bertentangan dengan ajaran Islam. Kepada mereka, Qaddafi akan melakukan kekejaman seperti tangan besi Kamal Ataturk terhadap ulama dan umat Islam Turki yang menolak sekulerisme. Qaddafi juga berjanji akan menerapkan Marxisme-komunisme.

Dalam kesempatan tersebut, Qaddafi mengatakan: “Sekarang, seseorang datang kepada saya dan mengatakan: ‘Al-Kitab al-Akhdhar bertentangan dengan agama (Islam). Saya akan bertindak sebagaimana (Kamal, edt) Ataturk bertindak, saya marah, dan saya katakan kepadamu: ‘Ambil, robek-robek, dan bakarlah al-Kitab al-Akhdhar dalam api! Saya akan datangkan Kitab Merah sehingga saya terapkan seluruh ajaran Marxisme dalam buku itu.”

Untuk menjalankan seluruh kebijakan sekulerisme-sosialisme di Libya dan membungkam semua ulama dan aktivis Islam yang menentangnya, Qaddafi membentuk Harakah al-Lijan ats-Tsauriyah (Gerakan Pengawal Revolusi). Harakah al-Lijan ats-Tsauriyah dengan kekuatan senjata menindas umat Islam Libya yang menginginkan hidup di bawah naungan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Begitu vitalnya peran Harakah al-Lijan ats-Tsauriyah dalam menjalankan, mengontrol, dan mengawal sistem hidup jahiliyah taghut Libya ini, sehingga Qaddafi sendiri mengakuinya sebagai NABI ABAD MODERN, era pemerintahan rakyat pasca era monarchi.

Dalam pidatonya di auditorium al-Umm kota Benghazi pada tanggal 7 Juni 1990, Qaddafi mengatakan: “Harakah al-Lijan ats-Tsauriyah adalah nabi masa kini, masa republik. Ia benar-benar adalah nabi. Nabi masa republik adalah Harakah al-Lijan ats-Tsauriyah, namun mereka sulit membenarkannya.”

Maha Benar Allah Yang telah berfirman,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengadakan kedustaan terhadap Allah atau orang yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.” (QS. Al-An’am (6): 93)

Bersambung, insya Allah…

(muhib al-majdi/arrahmah.com)

Sumber

| | Read More »